Select Page

Pasangan calon presiden Prabowo Subianto yang berpasangan dengan calon wakil presiden Gibran Rakabuming Raka memantapkan diri untuk memenangkan Pilpres 2024 dalam satu putaran saja.

Temuan survei Center for Political Communication Studies (CPCS) menunjukkan elektabilitas Prabowo-Gibran bertahan di atas 50 persen, dalam simulasi tiga pasang capres-cawapres. Pada Oktober masih 46,2 persen, naik menjadi 50,3 persen (November) dan kini mencapai 51,7 persen.

Dinamika menarik terjadi pada dua pasang capres-cawapres lainnya, di mana Anies Baswedan yang didampingi Muhaimin Iskandar berhasil menyalip pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, sehingga menempatkannya pada peringkat kedua.

Elektabilitas Anies-Cak Imin mencapai 21,8 persen, terpaut tipis dari Ganjar-Mahfud sebesar 21,3 persen. Anies-Cak Imin mengalami tren peningkatan elektabilitas dari 15,8 persen pada Oktober, sedangkan Ganjar-Mahfud melorot tajam dari sebelumnya menyentuh 30,6 persen.

“Prabowo-Gibran diperkirakan bakal memenangkan Pilpres dalam satu putaran, disusul Anies-Cak Imin yang saat ini menempati posisi runner-up,” ungkap peneliti senior CPCS Hatta Binhudi dalam press release di Jakarta pada Jumat (22/12).

Menurut Hatta, elektabilitas Prabowo-Gibran yang menjulang lebih dari 50 persen dan berjarak sangat jauh dari kedua pesaingnya membuat kemungkinan Pilpres berjalan dalam satu putaran semakin menguat.

“Dengan masa kampanye yang sangat pendek, tersisa kurang dari dua bulan lagi, agak sulit bagi Anies-Cak Imin ataupun Ganjar-Mahfud untuk bisa mengejar ketertinggalan dari Prabowo-Gibran yang saat ini unggul jauh,” tandas Hatta.

Kemungkinan yang bakal terjadi, lanjut Hatta, adalah persaingan antara Anies-Cak Imin dan Ganjar-Mahfud untuk memperebutkan peringkat kedua. “Ganjar-Mahfud yang sebelumnya cukup jauh mengungguli Anies-Cak Imin kini malah tersalip,” jelas Hatta.

Sejak tampilnya Gibran yang merupakan putera sulung Presiden Jokowi sebagai cawapres Prabowo, kubu Ganjar dan PDIP sebagai partai pengusung utamanya gencar melancarkan serangan baik terhadap keluarga Jokowi maupun pasangan Prabowo-Gibran.

Tudingan bahwa Jokowi tengah membangun politik dinasti dan berkhianat terhadap PDIP yang selama ini mendukung karier politiknya terus-menerus dilontarkan. Demikian pula dengan isu- pelanggaran HAM yang menerpa Prabowo diulang kembali setiap menjelang pemilu.

“Tampilnya Gibran dalam ajang Pilpres 2024 menjadi episentrum perpecahan antara Jokowi dan PDIP, di mana kini Jokowi semakin kuat mengarahkan dukungan kepada Prabowo alih-alih Ganjar yang diusung oleh PDIP,” terang Hatta.

Jokowi ingin memastikan kepemimpinan nasional berikutnya bakal melanjutkan program yang telah dijalankan dan visi Indonesia menjadi negara maju. “Ganjar yang lebih loyal kepada partai alih-alih komitmen pada keberlanjutan membuat Jokowi mengalihkan dukungan,” tegas Hatta.

Hasilnya, berbagai kritik dan serangan justru membuat elektabilitas Ganjar-Mahfud merosot dan terancam jatuh ke posisi juru kunci. “Selama ini Anies selalu berada pada urutan buncit, tetapi menuju pencoblosan perlahan bergerak naik dan kini menyalip,” ujar Hatta.

Fenomena merosotnya elektabilitas pasangan Ganjar-Mahfud pun tampaknya ditangkap oleh para elite PDIP. “Kubu Ganjar dan PDIP mulai mengurangi intensitas serangan terhadap Jokowi dan memfokuskan pada Prabowo-Gibran,” Hatta menjelaskan.

“Apakah perubahan strategi bisa mengembalikan posisi Ganjar-Mahfud, atau sudah terlambat, masih harus dilihat dalam beberapa waktu ke depan,” pungkas Hatta. Masa kampanye sudah berjalan tiga pekan dari total sekitar dua setengah bulan menuju hari-H. 14 Februari 2024.

Survei CPCS dilakukan pada 7-14 Desember 2023, dengan jumlah responden 1200 orang mewakili 34 provinsi yang diwawancarai secara tatap muka. Metode survei adalah multistage random sampling, dengan margin of error ±2,9 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen. (*)