Select Page

Tiga nama merajai bursa calon presiden, dengan elektabilitas tertinggi diraih oleh Prabowo Subianto. Temuan survei yang dilakukan Center for Political Communication Studies (CPCS) menunjukkan elektabilitas Prabowo mencapai 23,1 persen.

Dengan capaian tersebut, Prabowo berhasil mencatatkan rekor elektabilitas tertinggi dalam dua tahun terakhir, pasca-gelaran Pemilu 2019 lalu. Sementara itu Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo saling berkejaran memperebutkan posisi kedua dan ketiga.

Setelah sempat unggul pada survei bulan April 2022, Ganjar kembali disalip oleh Anies yang elektabilitasnya melejit dalam setahun terakhir. Kini Anies berada pada urutan kedua dengan elektabilitas 20,4 persen, tipis di atas Ganjar sebesar 20,0 persen.

“Prabowo berhasil meraih elektabilitas tertinggi dalam bursa capres, sedangkan Anies dan Ganjar bersaing ketat di posisi tiga besar,” ungkap Direktur Eksekutif CPCS Tri Okta S.K. dalam press release di Jakarta pada Kamis (4/8).

Menurut Okta, bursa capres kini didominasi tiga besar saja, yaitu Prabowo, Anies, dan Ganjar, dengan elektabilitas masing-masing telah menembus 20 persen. “Peluang ketiganya diusung sebagai capres semakin besar, lebih-lebih jika elektabilitas terus bergerak naik,” tandas Okta.

Menjulangnya elektabilitas ketiga tokoh tersebut memperlebar jarak dengan nama-nama lain, yaitu Ridwan Kamil (5,6 persen), Sandiaga Uno (4,3 persen), dan Agus Harimurti Yudhoyono (3,3 persen).

Pada jajaran tokoh-tokoh papan bawah, Khofifah Indar Parawansa untuk sementara memimpin (2,8 persen), diikuti Puan Maharani (2,0 persen), Erick Thohir (1,8 persen), dan Andika Perkasa (1,5 persen).

“Dalam setahun terakhir elektabilitas Erick terus bergerak turun, di mana sampai saat ini belum ada partai yang mengusung,” jelas Okta. Nama Erick sempat masuk dalam usulan rakernas Nasdem, tetapi hilang ketika mengerucut menjadi tiga nama, salah satunya Andika.

Sementara Andika mengalami kenaikan cukup signifikan, Puan perlahan naik elektabilitasnya.  Lalu ada Tri Rismaharini (1,3 persen), Mahfud MD (1,1 persen) dan Airlangga Hartarto (1,0 persen). Nama-nama lain di bawah 1 persen, dan sisanya tidak tahu/tidak jawab 10,5 persen.

“Setidaknya ada beberapa faktor yang mempengaruhi peluang tokoh-tokoh tersebut untuk diusung sebagai capres maupun cawapres,” jelas Okta. Faktor pertama, elektabilitas yang tinggi menjadi pertimbangan partai-partai yang ingin mendapatkan coattail effect.

“Dalam hal ini Prabowo, Anies, dan Ganjar memiliki peluang sangat besar untuk diusung sebagai capres, sedangkan nama-nama lain di bawahnya berpeluang menjadi pasangan cawapres,” Okta mencontohkan.

Faktor kedua, posisi tokoh tersebut dalam jajaran pimpinan partai, apakah kuat, lemah, atau bahkan berada di luar partai. Semakin kuat posisi tokoh di dalam partai, peluang untuk diusung terbuka lebar meskipun elektabilitasnya rendah atau tidak terlalu tinggi.

“Di antara semua nama yang ada, Prabowo paling di atas angin, karena elektabilitasnya tinggi sekaligus menjadi ketua umum Gerindra,” lanjut Okta. Sepanjang Prabowo mampu menjaga elektabilitas tetap tinggi, hampir pasti akan kembali berlaga dalam Pilpres mendatang.

Ganjar masih harus bersaing dengan Puan untuk merebut tiket capres dari internal PDIP, atau mencari kendaraan dari luar partai. Airlangga dan AHY yang elektabilitasnya rendah tetap lebih memiliki peluang dibandingkan misalnya RK atau Sandi, terkait kendali atas partai.

Faktor ketiga, kemampuan tokoh tersebut menggalang dukungan publik, antara lain dengan membentuk kelompok-kelompok relawan, lebih-lebih jika tokoh tersebut tidak mempunyai posisi kuat di dalam partai ataupun non-partai.

“Saat ini hampir semua tokoh mempunyai relawan dan membangun citra di media sosial,” kata Okta. Dukungan publik diperlukan untuk membangun komunikasi dan bernegosiasi dengan partai-partai sebagai satu-satunya instrumen politik yang berhak mengusung capres-cawapres.

Faktor keempat, sejauh mana tokoh tersebut bisa diterima oleh partai-partai, ataukah terdapat resistensi yang cukup kuat. “Anies jauh lebih bisa diterima termasuk oleh PDIP dibandingkan AHY, lebih-lebih jika Demokrat bersikukuh AHY menjadi cawapres,” ujar Okta.

Faktor kelima, sosio-kultural masyarakat Indonesia, seperti keseimbangan Jawa dan Luar Jawa, nasionalis dan Islam, serta sipil dan militer. “Bangunan sosiologis seperti itu masih kuat terpatri di alam bawah sadar publik, berpengaruh dalam pembentukan koalisi,” pungkas Okta.

Survei CPCS dilakukan pada 22-27 Juli 2022, dengan jumlah responden 1200 orang mewakili 34 provinsi yang diwawancarai secara tatap muka. Metode survei adalah multistage random sampling, dengan margin of error ±2,9 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen. (*)